Mengurai Tantangan dan Meregenerasi Pertanian Menuju Indonesia Emas 2045 bersama Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) di Desa Giriawas
Pada hari Minggu, 19 Oktober 2025, pukul 14.00 WIB, telah berlangsung pertemuan penting yang digagas oleh Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) di kediaman keluarga Nenden Hikmahanto Juwana, Kampung Sukagalih RW 04, Desa Giriawas. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai tokoh strategis di tingkat desa dan pemerintahan, termasuk Kepala Desa Giriawas, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Ketua Karang Taruna, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), anggota DPRD Komisi II Bapak Dindin Mauludin, S.Pd.I., MM, serta para pelaku usaha dan pengusaha tani.
Acara dimulai dengan sambutan dari Sekretaris Jenderal LPER, Ibu Prof. Dr. Francisca Sestri, S.E., M.M., yang menyambut hangat para hadirin dan menyampaikan maksud serta tujuan kegiatan. Menurut beliau, pertemuan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antar pelaku pertanian dan pemangku kebijakan di desa guna menghadapi problematika pertanian sekaligus membuka jalan menuju regenerasi sektor pertanian yang berkelanjutan. Terlebih Indonesia sedang mempersiapkan diri menuju pembangunan Indonesia Emas pada 2045, di mana sektor pertanian memegang peranan penting sebagai tulang punggung ketahanan pangan dan penggerak ekonomi desa.
Kepala Desa Giriawas Bapak Deni Sunjani, kemudian memberikan sambutan penuh antusiasme. Beliau menyatakan rasa terhormat atas kedatangan para tokoh dan anggota masyarakat, sekaligus mengajak seluruh pihak untuk bersama mencari solusi nyata atas tantangan yang dihadapi para petani di desa ini. Menurut Bapak Deni, pemerintah desa berkomitmen mendukung setiap upaya inovasi dan peningkatan kapasitas para petani dengan memaksimalkan peran BUMDes dan berbagai organisasi masyarakat desa.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh anggota DPRD Komisi II, Bapak Dindin Mauludin, S.Pd.I., MM., yang merupakan wakil rakyat dari daerah ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kebijakan pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani kecil, meningkatkan akses modal dan teknologi, serta memperkuat mekanisme pemasaran agar hasil produksi mendapatkan harga yang layak dan stabil.
Setelah sambutan, acara utama berupa sesi sharing dimulai. Para pelaku tani dan pengusaha pertanian secara terbuka mengungkapkan persoalan-persoalan yang selama ini menjadi kendala utama di sektor pertanian. Salah satu permasalahan terbesar yang diangkat adalah fluktuasi harga hasil panen yang sangat tajam dan merugikan petani. Contohnya, harga pokok produksi (HPP) untuk tanaman wortel sekitar Rp1.500 per kilogram, tetapi saat musim panen tiba, harga jualnya kadang anjlok hingga Rp300 per kilogram. Kondisi ini berakibat pada ketidakmampuan petani menutup biaya operasional panen dan distribusi, sehingga banyak hasil panen terpaksa dibiarkan membusuk atau bahkan digunakan sebagai pupuk.

Sumber : Saripul Hayat (19/10/2025) Diskusi Pembahasan Ketidakpastian Harga Pertanian
Diskusi semakin mendalam dengan berbagai usulan pemecahan masalah, seperti penguatan kelembagaan Gapoktan untuk mengatur penjadwalan panen dan pemasaran bersama, memberdayakan BUMDes sebagai badan penyangga harga dan pemasaran dengan jaringan distribusi lebih luas, penerapan teknologi penyimpanan dan pengolahan hasil pertanian agar nilai tambah meningkat, serta renca distribusi ke pasar moderen dengan penentuan harga dasar pada komoditas sehingga petani dapat menentukan kesiapan pertanian.
Selain itu, peserta juga membahas regenerasi pertanian sebagai hal strategis untuk masa depan. Harapan besar diarahkan kepada generasi muda desa agar tertarik dan bersedia meneruskan profesi bertani dengan metode modern dan kreatif. Ketua Karang Taruna mengusulkan pelatihan digitalisasi pertanian dan kewirausahaan untuk meningkatkan kapasitas kaum muda ini. Anggota DPRD menyatakan dukungannya melalui program-program pembinaan dan fasilitasi dari pemerintah kabupaten dan provinsi.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk membentuk tim kerja terpadu yang akan secara rutin memantau perkembangan pertanian, mengkaji harga pasar, menginisiasi program inovasi pertanian berkelanjutan, serta mengembangkan jejaring kemitraan dengan berbagai pihak di luar desa melalui pembuat grup whatsapp, sehingga pada pertemuan berikutnya lebih spesifik membahas permasalahan yang dihadapi di dunia pertanian. Langkah ini diharapkan dapat mewujudkan pertanian yang produktif, berdaya saing, dan mampu menjawab harapan Indonesia Emas 2045—dimana desa Giriawas diharapkan menjadi contoh pengembangan pertanian maju yang aplikatif dan berkelanjutan.





